Tag: politik

Priyo Kurang Sreg Bebaskan Sandera dengan Tebusan

Priyo Kurang Sreg Bebaskan Sandera dengan Tebusan

| 03/05/2011 | Reply

TEMPO Interaktif, Jakarta – Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengaku tidak sreg dengan pemberian uang tebusan untuk membebaskan sandera kapal MV Sinar Kudus. Menurut dia, pemberian tebusan hanya menunjukan Indonesia lemah di mata perompak.

“Saya tetap tidak sreg dengan uang tebusan itu, seakan-akan kita lemah. Nanti jadi langganan, tuman itu (kebiasaan),” kata Priyo di Gedung DPR, Senin 2 Mei 2011. “Menlu Somalia menyatakan keberatan dengan uang tebusan, ini malah kita sendiri yang beri uang tebusan.”

Perompak Somalia kemarin telah membebaskan 20 awak kapal MV Sinar Kudus yang disandera sejak 16 Maret lalu setelah mereka menerima tebusan.  Personel TNI juga menembak empat orang perompak Somalia yang hendak meninggalkan  sandera.

Kendati sandera dibebaskan dengan uang tebusan, kata Priyo, tindakan aparat TNI tetap harus diapresiasi, karena berhasil menumpas empat orang perompak. “Ini baru tentara kita. Tidak salah kalau saya ikut menaikkan dana TNI sekian triliun,” kata dia.

Politikus Partai Golkar itu yakin dengan kualitas TNI, karena pasukan elit TNI sejak dulu memang terlatih dan dihormati negara lain. “Sesekali perlu lah ‘show off’ sedikit. Untuk sandera, saya ucapkan selamat,” kata dia.

Untuk semakin mendukung kerja TNI, di masa-masa mendatang Priyo berjanji akan menyampaikan ke Badan Anggaran dan Komisi Pertahanan dan Luar Negeri untuk menambah anggaran TNI. “Tambahin alat-alat persenjataan mereka, tambahin dananya kalau perlu.”

Senin, 02 Mei 2011 | 19:03 WIB

Read More

Demokrat Dinilai Lakukan Politik Pasar Bebas

Demokrat Dinilai Lakukan Politik Pasar Bebas

| 20/04/2011 | Reply

Jakarta, CyberNews. Partai Demokrat dinilai melakukan politik pasar bebas, dengan membajak tokoh-tokoh sentral dari berbagai partai politik dan ormas, yang memiliki dukungan kuat.

“Ini seperti pasar bebas, sehingga tarik menarik kepentingan politik terjadi di semua segmen. Kejadian terakhir ini, Saya ucapkan selamat kepada Partai Demokrat yang sudah menarik tokoh sentrum dari berbagai parpol,” ujar Ketua DPP Partai Golkar, Priyo Budi Santoso, di Gedung DPR, Rabu (20/4).

Seperti diketahui, sejumlah kader partai politik tertentu memilih pindah ke Partai Demokrat. Di antaranya adalah, kader Partai Bulan Bintang (PBB), yang juga menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat Zainul Majdi, Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf juga hijrah dari PAN. Terakhir, organisasi masa Ikhwanuk Mubalghin ikut merapat menjadi organisasi saya Partai Demokrat.

Menurut Priyo, hal itu terjadi karena tidak adanya aturan yang jelas dan tegas untuk melarang kader suatu parpol pindah ke parpol lain. Setiap tokoh parpol memiliki hak penuh tanpa ada konsekuensi, untuk lompat ke partai lain. “Apakah dipandang perlu kita membuat tata aturan yang mengatur ini. Kalau ingin politik pasar bebas, ya silakan teruskan,” ujarnya.

Wakil Ketua DPR ini menilai, bahwa sejumlah tokoh yang pindah parpol itu hanya untuk kepentingan pragmatis kekuasaan. “Itu sah, tapi dari segi etika politik, memang sedikit mengganggu,” kata Priyo.
( Satrio Wicaksono / CN26 / JBSM )

Sumber: Suara Merdeka Cybernews, Rabu 20 April 2011 | 22:36 wib

Read More

Perempuan Bisa Rebut Jabatan Strategis

Perempuan Bisa Rebut Jabatan Strategis

| 08/03/2011 | Reply

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso, menilai sudah seharusnya perempuan mendapat tempat terbaik dalam perkembangan dunia yang serba global sekarang ini. Jika tidak memberi kesempatan perempuan pada bidang politik, sejarah akan menyalahkan.

“Perempuan kan unik, tak pernah bisa meninggalkan kodrati sebagai ibunya anak-anak dan istri dari seorang suami, tapi itu tidak mengurangi esensi dia dalam berkegiatan politik maupun lainnya,” ujar Priyo saat ditemui dalam acara Peringatan Hari Perempuan Internasional di gedung DPR, Jakarta, Selasa (8/3/2011).

Menurut Priyo, perempuan sangat punya kans untuk merebut jabatan strategis di dunia politik. Hanya saja semua tergantung dari perempuan itu sendiri.

“Tergantung dari perempuan sendiri, yang meminta 30 persen unsur perempuan, Golkar sudah menerapkan itu,” jelasnya.

Sumber: Tribunnews.com – Selasa, 8 Maret 2011 16:17 WIB

Read More

Peran Legislator Perempuan Makin Signifikan

Peran Legislator Perempuan Makin Signifikan

| 08/03/2011 | Reply

JAKARTA – Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso mengatakan, peran dan kinerja legislator perempuan di parlemen semakin signifikan pada periode 2009-2014 ini.

Meskipun, keinginan partai politik untuk meningkatkan jumlah perempuan hingga 30 persen di parlemen dengan kebijakan khusus sementara atu affirmative action belum tercapai.

Hal itu dikatakannya berkaitan dengan peringatan hari perempuan internasional yang jatuh pada hari ini.

“Semakin hari saya melihat ada peningkatan yang signifikan, kapabilitas, kapasitas, kualitas dari tokoh-tokoh perempuan yang sekarang menempati berbagai tempat strategis, pimpinan komisi banyak, badan-badan dan pimpinan pansus. Saya kira ini perkembangan yang baik, saya sendiri yang termasuk mengikuti dan merupakan salah satu pelaku yang ikut memperjuangkan membuka keran affirmative action,” katanya kepada wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (8/3/2011).

Ke depan, Priyo berharap jumlah legislator perempuan terus bertambah dengan kualitas yang makin baik secara alamiah. Peningkatan jumlah tak perlu dipaksakan karena akan merugikan perempuan sendiri jika legislator yang terpilih tidak berkualitas.

Ditanya mengenai komposisi pimpinan DPR yang belum mengakomodir keterwakilan perempuan, Priyo mengakui selama ini memang belum pernah ada perempuan yang menjadi pimpinan DPR. Namun, seiring dengan peningkatan jumlah mereka di DPR, Priyo yakin ke depan peluang tersebut akan semakin terbuka.
(ded)

Sumber: Okezone.com, Selasa 8 Maret 2011 16:11 wib

Read More

Peningkatan Partisipasi Politik Perempuan

Peningkatan Partisipasi Politik Perempuan

| 08/03/2011 | Reply

Jakarta – Tahun 2011 ini adalah tepat 100 tahun peringatan Hari Perempuan Internasional. Sebagai sebuah lembaga negara yang secara konsisten mendorong penguatan peran perempuan di dalam kegiatan bernegara, DPR RI memperingatinya dengan mengadakan seminar yang bertemakan Peran Perempuan Indonesia Dalam Demokrasi.

Dalam sambutan pembukaan seminar tersebut, Wakil Ketua DPR RI/Korpolkam Priyo Budi Santoso menggarisbawahi pentingnya perempuan membekali diri untuk dapat berkarya dan bekerja di berbagai bidang, termasuk bidang politik. Dalam konteks politik Indonesia, peran perempuan juga sedang berkembang secara signifikan. “Banyaknya perempuan yang bekerja di bidang politik saat ini telah menunjukkan peran perempuan yang lebih luas dalam membangun demokrasi di Indonesia. Perempuan tidak hanya dapat membangun kesadaran berdemokrasi dari lingkup keluarga, tapi juga menjadi bagian dari lembaga politik dan pemerintahan.” ujar politisi yang pernah menjadi dosen FISIP Universitas Nasional ini.

Selanjutnya, Priyo Budi Santoso mencatat bahwa sejak bergulirnya era reformasi yang dimulai pada tahun 1998, peran lebih besar perempuan dalam proses pengambilan kebijakan adalah sebuah keniscayaan. Kenyataan ini terindikasi dengan adanya trend positif peningkatan partisipasi politik kaum hawa tersebut di dalam kancah perpolitikan nasional. “Pada Pemilu tahun 1999 hanya terdapat 9%  dari 462 anggota DPR RI yang merupakan anggota perempuan, namun pada Pemilu 2004 meningkat menjadi 11%. Peningkatan tersebut salah satunya didorong oleh lahirnya 2 UU di bidang politik, yaitu UU 31 tahun 2002 tentang Parpol dan UU No.12 tahun 2003 tentang Pemilu. Bahkan pada pemilu 2009 lalu angka prosentasenya telah mencapai 17% dari seluruh keanggotaan DPR RI yang berjumlah 560 orang.” ungkap Ketua Bidang Hubungan Legislatif dan Lembaga Politik Partai Golkar ini.

Menanggapi keberhasilan Ibu Dr. Nurhayati Ali Assegaf, Wakil Ketua BKSAP, yang terpilih menjadi President of Coordinating Committee of Women Parliamentarians of the Inter-Parliamentary Union (IPU), mantan aktivis HMI ini mengatakan bahwa keberhasilan ini patut diapresiasi. “Keberhasilan DPR RI menduduki jabatan strategis tersebut menunjukkan bahwa parlemen-parlemen di seluruh dunia mengapresiasi peran perempuan di dalam transisi politik dan perkembangan demokrasi di Indonesia. Oleh sebab itu, presidensi ini selain merupakan bentuk aktualisasi penajaman parliamentary diplomacy DPR RI di panggung diplomasi global yang tentunya memperjuangkan kepentingan perempuan dalam arus globalisasi yang semakin deras, juga dapat dijadikan bukti bahwa kaum perempuan di negara Indonesia yang notabene merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia mendapat kesempatan yang sama dalam berpolitik dan berdemokrasi. Fakta ini telah mengoreksi kekeliruan pandangan yang selama ini sering disampaikan oleh negara-negara Barat bahwa Islam adalah agama yang mengebiri hak-hak kaum perempuan.” ujarnya. (adv/adv)

Sumber: Advertorial – detikNews, Selasa, 08 Maret 2011 13:44 WIB

Read More

Versi Wartawan: Priyo Nara Sumber Kompeten dan Komunikatif

Versi Wartawan: Priyo Nara Sumber Kompeten dan Komunikatif

| 08/03/2011 | Reply

INILAH.COM, Jakarta – Selain riset terhadap anggota DPR RI, INILAH.COM bekerja sama dengan Uvolution Indonesia juga melakukan riset terhadap para wartawan yang bertugas meliput di Gedung DPR RI. Apa pandangan mereka tentang para legislator di Senayan?

Riset ini untuk melihat bagaimana persepsi para wartawan koordinatoriat Gedung DPR/MPR terhadap anggota DPR yang selama ini mereka liput. Penelitian dilakukan pada pertengahan Januari 2011 dengan mengambil sampel 55 orang wartawan.

Berikut ini hasil riset yang digelar dalam rangka memperingati ulang tahun ketiga INILAH.COM dan ulang tahun pertama Ovulution Indonesia tersebut:

  1. Sebanyak 83% wartawan mengaku sering menerima permintaan liputan dari anggota DPR RI.
  2. Sebanyak 43% responden mengaku ada anggota DPR yang menjaga komunikasi intensif, meskipun tidak dimuat beritanya.
  3. Dasar pemilihan sebagai narasumber berita di DPR adalah relevansi anggota DPR dengan berita (45%), kompetensi anggota (29%), kegiatan/event terkait berita (26%).
  4. Sebanyak 20% wartawan mengaku pernah menerima keluhan dari anggota DPR seputar pemberitaan yang mereka buat.
  5. Kendala dalam peliputan adalah pada saat reses, kurangnya transparansi data, banyaknya agenda DPR, kurangnya narasumber, anggota DPR yang tidak kompeten.
  6. Relasi yang baik antara wartawan dan anggota menurut perspektif wartawan yaitu dengan cara: berhubungan baik dan profesional, menjaga kode etik jurnalistik, berkomunikasi aktif dua arah.
  7. Politisi Senayan paling sering dijadikan sumber berita antara lain Priyo Budi Santoso, Pramono Anung, Ruhut Sitompul, Marzuki Alie, Efendi Simbolon, Saan Mustopa, Bambang Soesetyo, dan Panda Nababan.
  8. Narasumber kompeten menurut wartawan antara lain: Pramono Anung, Priyo Budi Santoso, Ganjar Pranowo, Anis Matta, Gayus Lumbuun, Agus Purnomo, dan Mahfudz Shiddiq.
  9. Anggota DPR yang dianggap paling baik relasinya dengan media antara lain adalah: Priyo Budi Santoso, Bambang Soesatyo, dan Ruhut Sitompul. [nic]

Read More